
Sangatta, thelimit.id – Keterbatasan akses dan tantangan infrastruktur terus menjadi hambatan dalam dunia pendidikan di pelosok desa. Para siswa-siswa di desa-desa terpencil harus menghadapi kendala dalam mencari pendidikan berkualitas. Dalam era digital ini, di mana akses ke informasi sangat penting, perjuangan mereka untuk mendapatkan peluang pendidikan yang setara semakin menantang.
Hal demikian pula disoroti Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) Agusriansyah Ridwan. Kata dia pesatnya perkembangan dunia pendidikan harus ada alternatif atau solusi bagi sekolah yang berada di daerah dalam menjawab tantangan tersebut.
Sejauh ini, diketahui bahwa wilayah Kutai Timur (Kutim) dalam hal akses internet masih belum merata bahkan hanya ada beberapa sekolah saja yang telah merasakan. Sekolah yang berada di pelosok perdesaan jauh dari perkotaan tentu tidak menikmati hal itu, sebab layanan internet yang belum terjangkau bagi wilayah sana.
Oleh karena itu, menurutnya hal inilah yang mesti dipikirkan dan mencarikan solusinya, kondisi pendidikan seperti demikian perlu diperhatikan. Apalagi dengan kurikulum merdeka yang mengharuskan para pelajar menggunakan perangkat-perangkat teknologi.
“Perlu dipikirkan dan diperhatikan, pendidikan dengan semakin berkembangnya teknologi termasuk soal pelayanan signal, mesti aksesbilitas itu dinikmati bersama-sama,” ujarnya.
Agusriansyah mengungkapkan, sembari berjalan tidak perlu menunggu layanan akses terbaik, sebab jika menunggu maka bisa jadi semua terhambat. Olehnya, persoalan tersebut lebih didahulukan mencari mekanisme yg memudahkan.
“Mungkin mekanismenya bisa di sekolah masing-masing,” tandasnya. (*/Fbt)





