Dalam tesis Budiman Sudjatmiko di University of Cambridge, klientelisme adalah corak politik milik Negara Dunia Ketiga di mana masyarakat industri belum terbentuk, malah keburu datang de-industrialisasi. Ia saat itu meneliti kemenangan politik elektoral dari tokoh-tokoh di Amerika Latin. Klientelisme, menurut Budiman, adalah salah satu corak inklusi politik dan sebuah pola pemanfaatan jaringan yang bersifat vertikal antara patron dengan klien dengan membawa strata kelas bawah ke politik kekuasaan dan mendapat porsi dalam akses ke sumber daya.
Jaringan klientelis yang meluas memotong garis-garis kelas maupun ikatan horisontal primordial yang belum kuat. Dengan memakai logika tersebut, dalam konteks corak masyarakat di Kutai Timur yang semi urban di mana sudah hadir industri ekstraktif pertambangan dan perkebunan sawit yang menjadi pusat ekonomi baru, fenomena ini makin melestarikan bentuk-bentuk klientelistik vertikal dari berbagai organisasi dalam konteks demokrasi elektoral jangka pendek.
Definisi klientelisme biasanya berfokus pada saling hubung antara seorang patron dengan seorang klien. Saling hubungan ini bersifat partikularistik/personalistik dan didasarkan pada adanya pertukaran sumber daya dan jasa antara dua pihak yang berbeda status, kekuasaan, dan kekayaan. Dalam kasus khusus klientelisme politik konteks pemilu, para klien menawarkan dukungan politiknya untuk memperoleh barang maupun jasa.
Klientelisme adalah salah satu corak inklusi politik merupakan sebuah pola pemanfaatan jaringan yang bersifat vertikal antara patron dengan klien yang membawa strata kelas bawah ke politik kekuasaan dan mendapat porsi dalam akses ke sumber daya.
Pola klientelistik seperti ini menciptakan situasi di mana dinamika dan tensi dalam kehidupan politik modern ditandai oleh keterlibatan aktif massa dalam kehidupan politik oleh karena adanya kesenjangan sosial. Kata kunci kesenjangan menjadi penting untuk melihat ada tidaknya klientelisme.





