Redaksi

Redaksi

Bela Palestina di Sangatta, dari Injak Bendera hingga Anak SMP Jadi Orator

Unjuk rasa itu tak hanya melibatkan muda mudi namun juga remaja. Seperti Haedar, siswa sekolah menengah pertama (SMP) itu turut berorasi menyampaikan kepedulian, keprihatinan hingga dukungan terhadap Palestina.
Aksi peringatan Hari Al-Quds Internasional di Sangatta mengecam genosida yang dilakukan Israel dan Amerika terhadap Palestina. Foto: Cindy/thelimit.id

Bela Palestina di Sangatta, dari Injak Bendera hingga Anak SMP Jadi Orator

Sangatta, thelimit.id – Kurang lebih dua jam sebelum berbuka puasa sekelompok pemuda berkumpul dengan hati penuh semangat di pusat kota Sangatta. Mereka bukan hanya sekadar masa muda yang memadati jalan-jalan kota, namun penuh dengan tekad yang menggelora. Di bulan yang penuh berkah ini, saat semua orang menahan nafsu, mereka berdiri untuk sesuatu yang lebih besar daripada diri mereka sendiri.

Dalam kerumunan yang semakin bertambah itu, tampak satu gerakan kecil yang menarik perhatian. Sebuah bendera Israel dan Amerika, yang begitu familiar di koridor-koridor diplomasi dan pertikaian internasional, diletakkan dengan lembut di tengah jalan raya yang sibuk. Namun, maksudnya tidak semata-mata untuk menyatakan keberadaan, tetapi untuk menantangnya.

Berasal dari berbagai organisasi yakni Ahlulbait Indonesia, Majelis Ta’lim Ilmu Kutai Timur, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Sangatta, KOHATI Kutai Timur, Muslimah Indonesia, dan Fraksi Rakyat Kutim (FRK) berkumpul untuk memperingati Hari Al Quds Internasional.

Massa aksi yang berjumlah puluhan orang itu, membuat kedua simbol Negara Israel dan Amerika diinjak-injak oleh masyarakat yang melintas di simpang tiga jalan Pendidikan, Jumat (05/04/2024).

“Tidak perlu menjadi muslim untuk bela Palestina, anda cukup jadi manusia,” tutur Agus sembari menyeru massa aksi dan pengguna jalan.

Baca juga:  Jadi Superhub IKN, Begini Tanggapan Anggota DPRD Kutim

Saat semua masyarakat sibuk berburu takjil di bulan puasa ini, mereka justru sibuk membuat aksi yang begitu mencolok. Para demonstran meletakkan bendera Israel dan Amerika di tengah jalanan, dengan harapan agar bendera-bendera tersebut diinjak-injak oleh para pengguna jalan.

Lazimnya setiap Jumat terakhir di bulan suci Ramadan, diperingati hari Al-Quds. Sebuah momen tersendiri untuk melantunkan perlawanan terhadap penjajahan bangsa Palestina menggema di seluruh belahan bumi. Selain aksi simbolik saat itu, mereka juga datang membawa takjil dan bendera Palestina yang terbuat dari kertas dan dipasangkan lidi untuk dibagikan kepada pengguna jalan yang berlalu lalang.

Aksi ini disambut hangat oleh pengguna jalan, banyak dari mereka yang mengambil bendera Palestina yang sedari awal memang disiapkan untuk dibagi-bagi. Mulai dari dari anak-anak hingga orang dewasa pun ikut antusias melihat aksi damai kala itu.

Bendara Negara adidaya yang di letakkan dijalan pun terlihat sangat kotor, karena masyarakat sengaja menancapkan gas kendaraannya untuk melintas di atas Bendera itu dengan harap melampiaskan kekesalan kepada Israel dan Amerika.

“Narasi Palestina, seolah olah tidak ada ujung pangkalnya, persekusi, penindasan dan genosida yang sistematis selalu mereka rasakan selama puluhan tahun. Bangsa yang merdeka, kini menjadi bangsa yang terjajah. Adalah Israel dan Amerika, yang menjadi dalang dibalik semua kejadian serta aktor dari semua bentuk penindasan yang dirasakan oleh bangsa Palestina,” ungkap Batta dengan lantang

Baca juga:  Pakar Ungkap Dampak Pembangunan IKN bagi Hutan Kalimantan

Bilangnya, hubungan Palestina dan Indonesia terikat secara idiologis dan historis.

“Palestina dan Indonesia adalah dua negara yang memiliki ikatan bukan hanya secara idiologis, akan tetapi secara historis sudah terjalin sejak fase kemerdekaan Indonesia. Dukungan dan pengakuan bangsa Palestina terhadap Indonesia merupakan titik awal dari ikatan historis tersebut. Dan tentunya, sebagai negara yang pernah merasakan penjajahan, Indonesia pasti pahan yang dirasakan oleh bangsa Palestina,” sambungnya.

Aksi damai yang tidak mendapatkan penjagaan ketat dari aparat ini berlangsung kurang lebih satu setengah jam. Para orator bergantian menyuarakan berbagai masalah Palestina serta membagikan selebaran ke pengguna jalan.

Unjuk rasa itu tak hanya melibatkan muda mudi namun juga remaja. Seperti Haedar, siswa sekolah menengah pertama (SMP) itu turut berorasi menyampaikan kepedulian, keprihatinan hingga menyatakan dukungan terhadap Palestina.

“Apabila melihat kemungkaran atau kejahatan hendaklah mencegahnya dengan perbuatan, jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan, jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman,” pungkas Haedar sambil mengangkat tangan. (*/cnd)