Redaksi

Redaksi

Jepang di Kubangan Resesi, Pahami Dampaknya

Analis menyebut pelambatan ekonomi atau resesi yang terjadi di Jepang saat ini bisa berpengaruh cukup besar bagi kinerja ekspor Indonesia. Ini karena Jepang mitra tradisional Indonesia dan sejumlah produk diekspor ke negara matahari terbit tersebut.
Gemerlap kota Tokyo di malam hari. Foto: Sean Pavone/Shutterstock

Jepang di Kubangan Resesi, Pahami Dampaknya

Jakarta, thelimit.id – Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, pelambatan ekonomi atau resesi yang terjadi di Jepang saat ini bisa berpengaruh cukup besar bagi kinerja ekspor Indonesia. Ini karena Jepang mitra tradisional Indonesia dan sejumlah produk diekspor ke negara matahari terbit tersebut.

Bhima pun menyampaikan beberapa produk ekspor Indonesia yang mungkin terdampak di antaranya batu bara, komponen elektronik, nikel, perhiasan, kayu, karet hingga perikanan.

“Jadi ini adalah list barang-barang yang mungkin akan terdampak ya karena memang nilainya sangat besar dan kondisi domestik di Jepang juga semakin diperburuk oleh demografi yang semakin besar usia nonproduktif atau lansianya. Jadi berpengaruh ke konsumsi domestik,” ujar Bhima kepada Republika, Sabtu, 17 Februari 2024.

Bhima menjelaskan, produk ekspor batu bara Indonesia ke Jepang tercatat sebanyak 8,8 miliar dolar AS kemudian disusul komponen elektronik senilai 1,5 miliar dolar AS dan nikel dengan 1,2 miliar dolar AS. Kemudian perhiasan senilai 1,2 miliar dolar AS dari Indonesia serta barang-barang dari kayu dan turunannya senilai satu miliar dolar AS juga dikirim ke Jepang.

Baca juga:  Seorang Perwira dan Bintara TNI AL Aniaya Wartawan, Ketua PWI Malut: Tidak Pantas Menjadi Abdi Negara

Karena itu, Bhima menilai pemerintah perlu melakukan mitigasi dengan mengalihkan produk-produk yang diekspor ke Jepang, sebagian dialihkan ke pasar alternatif.

“Tentu ini membutuhkan intelijen pasar untuk membaca peluang dan fasilitasi pertemuan dengan calon buyer atau pembeli yang potensial di negara alternatif. Di sinilah peran dari atase perdagangan kedutaan besar menjadi penting,” ujarnya.

Sebagai informasi, ekonomi Jepang dilaporkan tergelincir ke dalam resesi setelah dua kuartal mengalami kontraksi pada kuartal ketiga dan keempat tahun lalu. Menurut data pemerintah Jepang pada Kamis, 15 Februari 2024, ekonomi negara itu menyusut pada tingkat tahunan sebesar 0,4 persen pada periode Oktober-Desember 2023 karena daya beli yang lemah.

Produk domestik bruto (PDB) riil, nilai total barang dan jasa yang diproduksi di Jepang, menyusut 0,1 persen dari kuartal sebelumnya, menurut angka awal pemerintah. Menurut Kantor Kabinet Jepang, hal ini menandai kontraksi untuk kuartal kedua setelah penurunan 0,8 persen yang tercatat pada kuartal ketiga 2023.

Baca juga:  Firli Bahuri Belum Diperiksa Soal Kasus Kebocoran Data

Pengertian Resesi

Resesi ekonomi atau resesi adalah periode saat terjadi penurunan perekonomian yang ditandai dengan melemahnya produk domestik bruto (PDB) selama dua kuartal (6 bulan) berturut-turut. Resesi ekonomi ditandai dengan kenaikan tingkat pengangguran, penurunan penjualan ritel, dan terjadinya kontraksi di pendapatan manufaktur untuk periode waktu yang panjang.

Dalam pengertian lain, resesi ekonomi adalah pelambatan atau kontraksi besar dalam kegiatan ekonomi. Dengan adanya pelambatan ekonomi, hal ini mendorong kenaikan pemutusan hubungan kerja (PHK). Bahkan, beberapa perusahaan mungkin mengalami kebangkrutan.

Dalam kondisi ini, perusahaan akan lebih selektif menggunakan uangnya dengan fokus pemenuhan kebutuhan terlebih dahulu. Bagi pemerintah, dampak dari resesi ekonomi adalah pinjaman pemerintah akan melonjak tinggi. Sebab, pemerintah di setiap negara membutuhkan dana yang cukup untuk membiayai berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan upaya pembangunan negara.

Sumber pendapatan negara yang berasal dari pajak dan nonpajak juga menjadi sangat rendah. Sebab saat resesi, pekerja menerima penghasilan lebih rendah, sehingga pemerintah menerima pajak penghasilan yang lebih rendah. (*/che)