Muara Wahau, thelimit.id – Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman diwakili Asisten Administrasi Umum Sudirman Latif menghadiri perayaan Tahun Baru Islam 1446 H sekaligus peresmian sekolah SMPI Al-Miftah Muara Wahau, di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Syaikhina Ismail Al-Zain, Desa Wahau Baru, Kecamatan Muara Wahau, Selasa, 9 Juli 2024.
Hadir dalam acara peresmian SMPI Al-Miftah di antaranya Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadis Disdikbud) Mulyono, Ketua Yayasan Al-Miftah yang juga Rois Syuriah PBNU Raden Kiai Haji Muddatstsir, dan tokoh masyarakat setempat.
Kepala SMPI Al-Miftah Muhammad Wahid mengatakan tujuan pendirian SMPI Al-Miftah adalah mencetak generasi emas bangsa yang unggul dalam hal imtak dan iptek. “Visi misi kami adalah menyiapkan generasi yang unggul iman dan takwa sebagai pondasi awal, namun tanpa mengesampingkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi,” kata Muhammad Wahid.
Diketahui peletakan batu pertama pembangunan gedung SMPI Al-Miftah dimulai pada 12 November 2023. Saat ini ada 4 ruangan kelas dibangun secara permanen untuk memulai tahun ajaran 2024/2025.

Sementara itu, dalam sambutannya, Sudirman mengatakan selama masa kepemimpinan Bupati Ardiansyah, sektor pendidikan menjadi prioritas pembangunan. Dalam RPJM 2021-2025, Sudirman yang juga Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) menyebut pendidikan menjadi pilar utama dalam pembangunan daerah.
“Dengan APBD sebesar Rp 9,1 triliun, kami bisa dorong pembangunan pesantren di seluruh pelosok Kutai Timur untuk mendukung program anak-anak usia sekolah wajib bisa baca Al-Quran,” kata Sudirman, yang pernah menjadi guru anak berkebutuhan khusus untuk baca huruf braille di SLB.

Sudirman mencontohkan, tidak ada daerah lain selain Kutai Timur yang memberikan dana hibah kepada 2 perguruan tinggi lokal. Ia menyebut Sekolah Tinggi Pertanian (Stiper) Kutai Timur didukung dana hibah Rp 9 miliar per tahun dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sangatta mendapatkan Rp 7 miliar per tahun. Kedua perguruan tinggi ini membebaskan biaya kuliah bagi mahasiswanya.
Ia juga meminta stigma pesantren yang hanya jadi tempat pendidikan bagi siswa nakal harus segera diubah. Pesantren harus berdaya saing, bukan hanya menciptakan generasi qurani, tapi juga disiapkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi dan mampu menembus perguruan tinggi top di tanah air.
“Beberapa perguruan tinggi negeri sudah membuka jalur penerimaan mahasiswa penghapal Al-Quran,” ucap mantan kepala Dinas Transmigrasi itu.
Lebih lanjut, Kepala Disdikbud Mulyono membenarkan bahwa sektor pendidikan mendapatkan kenaikan anggaran yang signifikan tahun anggaran 2024. Pemkab Kutai Timur saat ini sudah mensubsidi seragam murid dan guru sekolah negeri dan swasta, memperbesar beasiswa untuk siswa SD dan SMP. Dalam hal operasional sekolah, pemerintah meningkatkan anggaran dari Rp 8,7 miliar menjadi Rp 18,6 miliar.
“Pemerintah tidak membeda-bedakan sekolah negeri dengan swasta. Semuanya kami dukung. Pemkab Kutai Timur tetap support 100%. Jika ada unsur pendidikan, tetap kami dukung, termasuk peningkatan kapasitas guru agar semua sarjana dan melinierkan menjadi sarjana pendidikan,” jelas mantan Camat Rantau Pulung itu. (*/che)





