Samarinda, thelimit.id – Pagi itu sinar terik matahari perlahan sudah mulai menusuk kulit, langit cerah dan sedikit angin yang bertiup membuat siapa saja yang berada di Dermaga Mahakam Ilir, harus mencari sudut-sudut teduh untuk berlindung sejenak dari sengatan matahari.
Meski begitu, dermaga ini tak pernah sepi pengunjung. Selalu saja ada aktivitas baik yang dilakukan warga setempat atau para wisatawan yang datang ke sana. Pasalnya sejak tahun 2018 pemerintah Kalimantan Timur telah meresmikan dermaga yang terletak di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Pelabuhan, Kecamatan Samarinda Kota tersebut, sebagai salah satu destinasi wisata susur sungai dengan menggunakan kapal wisata.
Meski terdapat beberapa lanskap yang begitu indah untuk diabadikan, namun para wisatawan yang baru pertama kali melakukan susur Sungai Mahakam, justru lebih tertarik dengan pemandangan puluhan kapal tongkang batu bara yang tersusun rapi di sepanjang sungai. Kapal-kapal ini tidak hanya sekadar benda mati yang mengapung di air, melainkan sebuah panggung hidup yang menampilkan tarian bisnis yang begitu unik.
Bahran, seorang anak buah kapal (ABK) yang bekerja pada Kapal Wisata Enggang Borneo, sepanjang hidupnya telah menyaksikan banyak hal di atas Sungai Mahakam yang telah puluhan tahun dipadati lalu lintas bisnis emas hitam tersebut.
Setiap lompatan waktu tentang kapal tongkang tersebut bagi Bahran memiliki cerita tersendiri. Ia menceritakan betapa kapal-kapal ini telah menjadi saksi bisu perjalanan perdagangan yang tak pernah berhenti. Baik yang secara resmi maupun yang tidak.
Pria yang tidak terlalu tinggi, berkumis rapi, dan suka mengenakan topi tersebut menceritakan kesaksiannya tentang bisnis batu bara, dari sisa pembersihan kapal tongkang yang kerap dilakukan oleh warga sekitar. Warga mengambil sisa batu bara di sela-sela kapal untuk dijual kembali ke pengepul yang tidak terdaftar secara resmi.
“Kapal-kapal kayu ini ngambil batu bara, dimuat di dalam kapalnya, baru mereka jual kembali. Dari tongkang habis loading ini mereka bisa kumpulkan sisa-sisa batu bara sampai beberapa ton untuk dijual kembali,” terangnya sembari menunjukkan keberadaan kapal kayu yang sandar di sepanjang Sungai Mahakam Samarinda.
Sisi Kelam Tongkang di Mahakam
Di balik keindahan dan kemegahan Sungai Mahakam, terdapat juga sisi gelap yang menyelimutinya di malam hari. Pencurian batu bara dari kapal tongkang terjadi di bawah bayang-bayang malam, seperti adegan dari sebuah novel misteri. Adegan itu tidak hanya dimanfaatkan menjadi sumber uang oleh warga setempat, sebagian justru malah terjebak pada tindakan kriminal yang cukup berbahaya melibatkan tongkang dan emas hitam tersebut.
“Nah kemarin sempat ditutup karena kasus, masalahnya yang tongkang yang berisi malah dicuri, makanya semua tumpukan (para pengepul batu bara sisa pembersihan, red) ditutup,” lanjut Bahran menceritakan peristiwa pencurian yang sempat menghebohkan Samarinda waktu itu.
Kapal tongkang yang berada di sepanjang sungai juga menjadi daya tarik bagi para pencuri batu bara. Mereka menyusup seperti bayangan di tengah malam, mencuri kekayaan hitam yang disembunyikan di dalam lambung kapal.
Tentu cerita Bahran ini bukan isapan jempol semata, menelusuri jejak digital yang ada, tepatnya setahun lalu IDN Times Kaltim mewartakan Pangkalan TNI AL Balikpapan telah mengamankan praktik pencurian batu bara di atas kapal tongkang Kawasan Muara Kembang Buoy 17 Samarinda Kalimantan Timur (Kaltim). Mereka Berhasil menangkap sebanyak 47 ABK serta barang bukti 8 kapal motor kelotok dan 31 ton batu bara hasil tindak pencurian.
Mengomentari fenomena tersebut Demisioner Dinamisator Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Kaltim, Pradarma Rupang, menyampaikan bahwa fenomena ini adalah bagian dari gagalnya industri ekstraktif batu bara untuk menyejahterahkan masyarakat. Baginya tindakan pencurian dan pengumpulan batu bara sisa, terjadi karena ada tingkat kemiskinan dan pengangguran yang tinggi di wilayah Kaltim.
“Perlu diketahui juga ada informasi yang mengatakan bahwa mereka yang jadi bajing loncat melakukan pencurian itu, dulunya yang terlibat dalam aktivitas tambang ilegal, jasanya sudah tidak digunakan lagi, akhirnya mereka melihat bahwa ini ada alur distribusi menggunakan tongkang yang bisa dimanfaatkan,” tekannya dalam sambungan telpon.
Lanjut Rupang, seringkali kapal tongkang tersebut harus berurusan dengan kapal nelayan dalam banyak hal termasuk insiden kecelakaan.
Baginya obyek wisata sudah sewajibnya memberikan rasa aman dan nyaman, Tapi bertolak belakang dengan apa yang ada di lapangan. Peristiwa ini membuktikan, Mahakam tidak lagi aman. Tongkang dan mafia batubara menguasai jalur Sungai Mahakam dari hulu hingga hilir. Transportasi publik jadi terdesak. Warga ragu menggunakan transportasi air, akhirnya memilih gunakan kendaraan darat.
“Padahal jika transportasi publik air ini berjalan dengan baik, dia akan membantu dalam mengurai kemacetan di kota,” tuturnya.
Peneliti dan antropolog dari Dala Insitute, Hamidah mengatakan bahwa pencurian sumber daya alam (SDA) tersebut terjadi bukan semata-mata karena adanya tindakan kriminal semata, ia menilai bahwa terjadi ketimpangan akses sumber daya alam yang membuat masyarakat dalam hal ini, mencari celah untuk memanfaatkan akses SDA yang ada.
“Di permukaan itu akan terlihat sebagai tindakan kriminal, tapi jauh di bawah permukaan itu tadi terjadi ketimpangan keadilan akses, jika ini terus terjadi maka pihak-pihak yang harusnya mendistribusikan keadilan ini, dianggap gagal atau tidak berhasil untuk mewujudkan kesejahteraan itu,” terang perempuan yang pernah beralmamater di University of Sussex.
Lebih jauh, Hamidah menyampaikan ada beberapa faktor psikologis yang juga dapat mempengaruhi perilaku masyarakat setempat terhadap lalu lintas Sungai Mahakam yang dipadati kapal tongkang tersebut. Baginya intensitas kapal pengangkut bisnis emas hitam itu, di tengah ketimpangan SDA yang ada akan membuat masyarakat tertantang untuk melakukan pencurian.
“Mungkin saja terjadi karena faktor-faktor psikilogis yang menyentuh inderawi dan memicu perilaku-perilaku tindak kriminal terhadap hal itu. Visualiasasi dapat membuat triger uderprivilage youth yang selalu melihat kehadiran kapal tongkang, bisa beranggapan bahwa itu dapat dikonversi menjadi bentuk uang,” pungkasnya.
Sementara itu dari data yang tersedia dibanding September 2021, jumlah penduduk miskin Maret 2022 perkotaan naik sebanyak 2.31 ribu orang dari 121.28 ribu orang pada September 2021 menjadi 123.59 ribu orang pada Maret 2022. Meski demikian pada tahun 2023 tren kemiskinan Kaltim telah mengalami penurunan 0,33 poin persen terhadap September 2022.
Emas Hitam yang Menawan Jadi Tontonan Wisatawan
Terlepas dari semua hal yang berkaitan dengan bisnis dan ketimpangan SDA tersebut, Tarian kapal-kapal pengangkut batu bara kini menjelma menjadi sebuah pengalaman tersendiri bagi wisatawan yang baru pertama kali melihat secara dekat lalu lintas tongkang batu bara di Sungai Mahakam.
Nuril, salah satu wisatawan yang berasal dari Pulau Jawa namun bekerja di Kalimantan Timur, tidak pernah menyangka bahwa batu bara sebagai SDA yang dibanggakan oleh daerah ini akan melintas tepat di hadapan wajahnya. Saat ia mengikuti kegiatan wisata susur Sungai Mahakam.
“Tentu ini pengalaman yang menarik, meskipun ada banyak objek lainya, namun bisa melihat batu bara sedekat ini terutama yang sudah siap jual ya, adalah hal yang baru bagi saya, dari tadi juga saya liat banyak wisatawan yang foto-foto,” ungkapnya.
Bahran sebagai ABK pada kapal wisata yang sudah lebih dari tiga tahun ini mengangkut para wisatawan merasa bahwa kehadiran emas hitam di atas Sungai Mahakam ini, memiliki cerita tersendiri di hati para masyarakat terutama wisatawan yang ada. Ia bahkan menyampaikan pada hari-hari tertentu kapal dengan estimasi 70 penumpang ini, terisi penuh dan dapat menjadi penghidupan bagi mereka yang bergantung padanya.
“Kalau sore biasanya padat lalu lintas tongkang, tapi kapal wisata ini juga penuh orang, jadi alhamdullilah ada sedikit pendapatan dari kapal ini,” tutupnya. (r-win)





